Coal Bed Methan (CBM) Energi yang Dapat Diperbaharui

Batubara memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah yang banyak, karena permukaannya mempunyai kemampuan mengadsorpsi gas. Meskipun batubara berupa benda padat dan terlihat seperti batu yang keras, tapi di dalamnya banyak sekali terdapat pori-pori yang berukuran lebih kecil dari skala mikron, sehingga batubara ibarat sebuah spon. Kondisi inilah yang menyebabkan permukaan batubara menjadi sedemikian luas sehingga mampu menyerap gas dalam jumlah yang besar. Jika tekanan gas semakin tinggi, maka kemampuan batubara untuk mengadsorpsi gas juga semakin besar.

Gas yang terperangkap pada batubara sebagian besar terdiri dari gas metana, sehingga secara umum gas ini disebut dengan Coal Bed Methane atau disingkat CBM. Dalam klasifikasi energi, CBM termasuk unconventional energy (peringkat 3), bersama-sama dengan tight sand gas, devonian shale gas, dan gas hydrate. High quality gas (peringkat 1) dan low quality gas (peringkat 2) dianggap sebagai conventional gas.

Berdasarkan data Bank Dunia, konsentrasi potensi terbesar terletak di Kalimantan dan Sumatera. Di Kalimantan Timur, antara lain tersebar di Kabupaten Berau dengan kandungan sekitar 8,4 TCS, Pasir/Asem (3 TCS), Tarakan (17,5 TCS), dan Kutai (80,4 TCS). Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah (101,6 TCS). Sementara itu di Sumatera Tengah (52,5 TCS), Sumatera Selatan (183 TCS), dan Bengkulu 3,6 TCS, sisanya terletak di Jatibarang, Jawa Barat (0,8 TCS) dan Sulawesi (2 TCS).

Sebagai informasi, sumber daya terbesar sebesar 6,49 TCS ada di blok Sangatta-1 dengan operator Pertamina hulu energi methane Kalimantan A dengan basin di Kutai. Disusul Indragiri hulu dengan operator Samantaka mineral prima dengan basin Sumatera Selatan yang mempunyai sumber daya 5,50 TCS, dan sumber daya paling rendah terlatak di blok Sekayu yang dioperatori Medco SBM Sekayo dengan basin Sumatera Selatan, dengan sumber daya 1,70 TCS.

Potensi CBM

Cadangan Coal Bed Methane (CBM) Indonesia saat ini cukup besar, yakni 450 TCS dan tersebar dalam 11 basin. Potensi terbesar terletak di kawasan Barito, Kalimantan Timur yakni sekira 101,6 TCS, disusul oleh Kutai sekira 80,4 TCS. Bandingkan dengan gambar 8, Amerika yang memiliki cadangan batubara cukup luas dan tersebar, hanya memiliki cadangan CBM yang relatif kecil.

Dari penelitian Steven dan Hadiyanto, 2005, (IAGI special publication) ada 11 cekungan batubara (coal basin) di Indonesia yang memiliki CBM, dengan 4 besar urutan cadangan sebagai berikut: 1. Sumsel (183 Tcf), 2. Barito (101.6 Tcf), 3. Kutai (80.4 Tcf), 4. Sum-Tengah (52.5 Tcf). Dengan kata lain sumber daya CBM di Sumsel sama dengan total (conventional) gas reserves di seluruh Indonesia. Terkait potensi CBM ini, ada 2 hal yang menarik untuk diperhatikan:

  1. Jika ada reservoir conventional gas (sandstone) dan reservoir CBM (coal) pada kedalaman, tekanan, dan volume batuan yang sama, maka volume CBM bisa mencapai 3 – 6 kali lebih banyak dari conventional gas. Dengan kata lain, CBM menarik secara kuantitas.
  2. Prinsip terkandungnya CBM adalah adsorption pada coal matrix, sehingga dari segi eksplorasi faktor keberhasilannya tinggi, karena CBM bisa terdapat pada antiklin maupun sinklin. Secara mudahnya dapat dikatakan bahwa ada batubara ada CBM.

Produksi CBM

Mengenai pembentukan CBM, maka berdasarkan riset geosains organik dengan menggunakan isotop stabil karbon bernomor masa 13, dapat diketahui bahwa terdapat 2 jenis pola pembentukan, yaitu :

  1. Sebagian besar CBM adalah gas yang terbentuk ketika terjadi perubahan kimia pada batubara akibat pengaruh panas, yang berlangsung di kedalaman tanah. Ini disebut dengan proses thermogenesis.
  2. CBM pada lapisan brown coal (lignit) yang terdapat di kedalaman kurang dari 200m, gas metana terbentuk oleh aktivitas mikroorganisme yang berada di lingkungan anaerob. Ini disebut dengan proses biogenesis.

Baik yang terbentuk secara thermogenesis maupun biogenesis, gas yang terperangkap dalam lapisan batubara disebut dengan CBM.

Gambar 1. Pembentukan CBM

Kuantitas CBM berkaitan erat dengan peringkat batubara, yang makin bertambah kuantitasnya dari gambut hingga medium volatile bituminous, lalu berkurang hingga antrasit. Tentu saja kuantitas gas akan semakin banyak jika lapisan batubaranya semakin tebal.

Air dalam lapisan batubara didapat dari adanya proses penggambutan dan pembatubaraan, atau dari masukan (recharge) air dalam outcrops dan akuifer. Air dalam lapisan tersebut dapat mencapai 90% dari jumlah air keseluruhan. Selama proses pembatubaraan, kandungan kelembaban (moisture) berkurang, dengan rank batubara yang meningkat.

Gambar 2. Kaitan antara lapisan batubara, air dan sumur CBM.

Gas biogenik dari lapisan batubara subbituminus akan dapat berpotensi menjadi CBM. Gas biogenik tersebut terjadi oleh adanya reduksi bakteri dari CO2, dimana hasilnya berupa methanogens, bakteri anaerobik yang keras, menggunakan H2 yang tersedia untuk mengkonversi asetat dan CO2 menjadi metane sebagai by produk dari metabolismenya. Sedangkan beberapa methanogens membuat amina, sulfida, dan methanol untuk memproduksi metane.

Aliran air, dapat memperbaharui aktivitas bakteri, sehingga gas biogenik dapat berkembang hingga tahap akhir. Pada saat penimbunan maksimum, temperatur maksimum pada lapisan batubara mencapai 40-90°C, dimana kondisi ini sangat ideal untuk pembentukan bakteri metane. Metane tersebut terbentuk setelah aliran air bawah tanah pada saat ini telah ada.

Apabila air tanah turun, tekanan pada reservoir turun, pada saat ini CBM bermigrasi menuju reservoir dari sumber lapisan batubara. Perulangan kejadian ini merupakan regenerasi dari gas biogenik. Kejadian ini dipicu oleh naiknya air tanah atau lapisan batubara yang tercuci oleh air. Hal tersebut yang memberikan indikasi bahwa CBM merupakan energi yang dapat terbaharui.

About Bangku Sarjana
I'm from Indonesian, I just a Student in Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Geophysics Department

16 Responses to Coal Bed Methan (CBM) Energi yang Dapat Diperbaharui

  1. taufik akbar says:

    Tampakny Indonesia uda mulai pinter. Jangan sampai dibodohi dengan luar negeri. Luar negeri mengimpor bahan-bahan SDA mentah ke Indonesia dengan jumlah banyak dan harga murah. Dan mengekspor ke Indonesia berupa bahan olahan/ barang jadi dengan harga yang jauh lebih mahal. Indonesia adalah surga para marketing luar negeri karena kita lebih bersifat konsumtif. Mental ini yang perlu diperbaiki agar Indonesia bisa mengelola sendiri SDA-nya dan mengekspor keluar negeri dengan harga yang jauh lebih mahal

    • djaakaa says:

      Benar yang dikatakan saudaraQ akbar, Indonesia memang kaya akan SDA yang melimpah, meluber, dll serta surga para marketing. Dan saat ini Indonesia menjadi tujuan para investor asing untuk bisa berinvestasi. Tapi sayang sekali sebagian besar perusahaan di Indonesia, dari pemilik saham sampai pihak manajemennya dikuasai oleh pihak asing. Kita hanya bagian tenaga kerja.

      terkait dengan hasil SDA, kita semua berharap Indonesia bisa menjadi pengekspor hasil SDA. tapi tidak semua SDA diekspor ke luar negeri. Kita harus membatasi jumlah ekspor atau yang akrab disapa quota ekspor.
      Tidak baik juga jika Indonesia tidak menerapkan quota ekspor, karena akan berpengaruh terhadap nilai tukar, perekonomian, serta tingkat kesejahterahaan masyarakat.

      .::I Love Indonesia::.

      *wa kn ber, yang aku tk kaluar foto (adhe’ fotona) deddi gambar kotak2 tk jellas gt,..😦 –>

  2. djaakaa says:

    benar yang dikatakan oleh bank dunia bahwa yang paling banyak memiliki potensi konsentrasi batubara di Kalimantan dan Sumatera. Di Kalimantan saat ini kita tahu bahwa perusahaan Bakrie “(bapakna akber) hhee” perusahaan batubara terbesar di Kalimantan yaitu PT. Bumi Resources, Tbk.

    Apakah PT.BMR sudah menerapkan hal seperti ini ya??

  3. taufik akbar says:

    Coba upload pole john gambar gravatarnya

  4. taufik akbar says:

    obe e profile put. Gente gravatar

  5. murjano says:

    Bos tanya.. kalo penentuan metode produksi yang tepat untuk cbm gimana?

  6. OnG says:

    Tapi sudah terlambat, banyak perusahaan di Indonesia di kuasai oleh investor luar negeri….. Coba gua bisa ulang waktu, pasti seru… GW PINTER SENDIRI…. WKWKKWKWWK

  7. Martha says:

    Adakah yang tahu perusahaan mana saja yang sudah mempunyai dan sedang merencanakan Coal Gas Methane Plant seperti yang diuraikan di atas ?. Terimakasih atas informasinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: