Longsor Kecamatan Konang Kabupaten Bangkalan – Madura

Bangkalan, menindaklanjuti informasi Koran Jawa Pos menganai longsor tepatnya di desa Sambiyan, Kecamatan Konang pada tanggal 5 November 2010. Longsor terjadi pada hari selasa tanggal 2 November 2010. Longsor terjadi pada 2 lereng yang diantara lereng terdapat sungai. Longsor terjadi pada lereng bagian selatan. Luas longsoran yang terjadi hingga saat ini sudah mencapai kurang lebih 2 hektar dan kedalamannya sekitar 35 meter yang pada lereng bagian selatan. Longsor terjadi karena gaya gravitasi lebih besar dari-pada resistensi lereng untuk bertahan.. Gaya penahan (resisting forces), yang meliputi kekuatan (strength) dan kohesi (cohession) material lereng, merupakan kontrol utama kestabilan lereng friksi antar butiran dan pendukung eksternal lereng lain. Dari hasil penelitian singkat di lapangan oleh Laboratorium Geofisika ITS Surabaya, longsor yang terjadi adalah tipe aliran, flow, bergerak turun sepanjang bidang gelincir. Tipe aliran merupakan longsoran yang sangat cepat, terutama untuk tanah yang memiliki kandungan lebih dari 50% lempung.

Longsor mengakibatkan dasar sungai di antara lereng terangkat hingga 2 meter dan sebuah sumber mata air tertutup oleh longsoran. Terangkatnya dasar sungai diakibatkan oleh dorongan longsoran dari lereng bagian selatan. Lereng bagian utara menahan longsoran yang kemudian dasar sungai menjadi terangkat setinggi 2 meter. Sungai diantara lereng merupakan sumber mata air 3 desa sekitar Desa Sambiyan untuk menyiram sawah. Saat ini kedaan sungai menjadi sekidit kering karena mata air tertutup oleh longsoran. Akibatnya adalah penduduk kehilangan persawahannya yang berada pada lereng. Selain itu salah satu rumah warga yang benama Bapak Hafid mengalami keretakan pada dinging bagian belakang rumahnya. Lokasi longsor berdekatan dengan Sekolah Madrasah dan sebuah mesjid.

Warga sekitar masih menganggap bahwa tragedi longsor ini berkaitan dengan ekslporasi seismik dengan menggunakan dinamit pada tahun 1988. Menurut Tri Martha Kusuma Putra, ketua tim survey lapangan longsor Kecamatan Konang dari Program Studi Geofisika ITS Surabaya longsor yang terjadi di bagian selatan lereng bukan karena eksplorasi seismik pada tahun 1988. Karena jangka waktu selama 22 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mendefinisikan bahwa longsor akibat dari getaran dinamit atau bencana dari dampak eksplorasi. Menurut ketua tim survey longsor mengatakan bahwa longsor diakibatkan oleh tiga faktor. Pertama, longsor diakibatkan oleh kemiringan lereng yang tidak sesuai ketentuan untuk satuan batuan lempung. Tanah yang tidak keras seperti lempung memiliki kisaran kemiringan 20° – 30°. Kemiringan yang kita dapatkan dilapangan berkisar antara 48° hingga 60°. Pada keadaan basah atau hujan lapisan batulempung dapat menjadi bidang gelincir ketika kondisinya basah. Menurut keterangan warga memang sebelum longsor terjadi hujan turun namun tidak deras.

Kedua, longsor yang terjadi pada lereng bagian selatan diakibatkan oleh faktor vegetasi. Vegetasi pada lahan yang longsor sebagian besar adalah pohon pisang dan area persawahan yang ditanami jagung dan kacang. Lereng pada bagian utara memiliki vegetasi yang lebih baik. Lereng bagian utara sebagian besar vegetasinya adalah tanaman akasia. Ketiga, pemicu terjadi longsor adalah karena adanya getaran yang diakibatkan oleh truk bermuatan besar. Menurut keterangan Bapak Hafid salah seorang warga sekitar banyak truk bermuatan besar pada bulan-bulan ini melintas di desa mereka untuk mengangkut perlengkapan pengeboran minyak. Getaran truk terasa hingga bagian rumah mereka bergetar. Lokasi longsor tidak jauh dari jalan desa tempat truk melintas sekitar 50 meter. Akses jalan aspal yang memiliki ketebalan sekitar 8 cm pun sudah rusak akibat truk bermuatan besar. Getaran dari truk dapat membuat sebuah retakan pada struktur lempung yang ada. Retakan akan memudahkan lempung membuat sebuah bidang gelincir pada saat keadaan basah.

Langkah selanjutnya agar longsoran tidak semakin meluas ke arah selatan dengan tindakan cepat melakukan penamaman vegetasi yang sesuai dengan karakteristik tanah lempung. Tujuannya adalah agar terjadi pengikatan material tanah lempung dan pengerasan tanah lempung agar tanah lempung tidak mudah longsor. Selain itu membenahi saluran sungai yang terangkat agar tidak mengganggu siklus air yang ada. Karena apabila siklus air terganggu akan mengakibatkan banjir dan kebencanaan air lainnya. Selain itu membuat sumur baru untuk kebutuhan pertanian dan kebutuhan sehari-hari pengganti sumur yang telah telah tertimbun oleh longsoran.

About Bangku Sarjana
I'm from Indonesian, I just a Student in Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Geophysics Department

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: