Penentuan Lokasi Akuisisi Magnetotelluric (MT)

MT (Magnetotelluric) adalah salah satu metode pasif yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik alam. Metode pengukuran atau perekaman sinyal secara pasif mengakibatkan banyak problem pada perolehan data yang sangat baik. Hal ini sangat berkaitan pada noise. Noise yang terekam beragam yang diantaranya aliran listrik PLN, angin, getaran atau gerakan tanah, dll. Hal ini sangat familiar dan dangat dijumpai apabila akuisisi MT dilakukan di pulau jawa. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Metode ini berdasarkan pengalaman saat melakukan akuisisi data MT di wilayah Jawa Timur.

Hal-hal yang dapat dilakukan diantaranya :

  1. Cek lokasi titik MT melalui google earth.

Cek lokasi melui google earth sangat penting untuk mengetahui kondisi sekitar titik stasiun MT. Dari google earth kita bisa mengetahui jarak titik pengamatan ke sumber noise. Perkampungan jarak 500m dari titik MT masih dapat mengakibatkan data MT yang kurang baik. Tampak jalan yang diprediksi besar juga menindikasikan adanya saluran listrik 20KV di tepi jalan dan banyak kendaraan belalu-lalang. Hal tersebut sangat berdampak pada data rekaman MT. Terlebih SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) PLN. Jarak 2 km dari jaringan SUTET cukup untuk menghindari noise untuk rekaman MT. Untuk mengetahui jalur jaringan SUTET PLN, data lokasi SUTET dapat diminta di kantor PLN. Pada intinya, pengecekan lokasi di Google Earth dilakukan untuk pengenalan wilayah.

  1. Pengukuran Arus AC dan DC.

Pada saat pengecekan lokasi di google earth, tentukan 3 titik lokasi yang memungkinkan untuk menggeser titik pengukuran MT. Lakukan pengukuran nilai AC dan DC pada titik yang diprediksi akan jauh atau dapat mengurangi intensitas noise. Alat yang digunakan adalah batang tembaga (misalkan : ujung alat penangkal petir), kabel, dan multimeter. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan :

  1. Tancapkan kedua batang tembaga dari titik pusat pengukuran ke arah utara atau selatan dan pusat pengukuran ke arah barat atau timur.
  2. Jarak antar kedua batang dari pusat ke arah tertentu sejauh 50 m. Karena pada umumnya jarak porous pot pada MT sejauh 100 m atau 50 meter dari pusatnya.
  3. Hubungkan kedua batang tembaga menggunakan kabel ke multimeter.
  4. Ukur nilai AC dan DC pada setiap arah.
  5. Lakukan hal yang sama pada lokasi lainnya. Dan tentukan lokasi pengukuran MT berdasarkan nilai pengukuran AC dan DC yang terkecil.

Hasil pengukuran sangat dapat dipertanggung jawabkan kepada client atau manager kita saat data yang kita dapatkan jelek. Pada intinya pengukuran AC dan DC ini sama saat melakukan pengukuran metode Self Potensial.

  1. Signal Magnetik Regional.

Situs http://www.swpc.noaa.gov/ftpdir/indices/DGD.txt menyediakan data kekuatan signal magnetik yang diterima bumi dari matahari. Selain faktor noise, mungkin dikarenakan pada waktu pengukruan MT signal magnetik dalam kondisi lemah atau kecil. Hal ini sangat berdampak pada data yang kita peroleh.

 

Mudah-mudahan informasi ini membantuk bagi explorist MT di wilayah yang bukan wilayah remote. Metode ini dirasa sangat membantu untuk mempertanggungjawabkan kepada atasan atau client terhadap kondisi data MT yang kita dapatkan tidak pernah baik di suatu wilayah yang penuh dengan noise.

About Bangku Sarjana
I'm from Indonesian, I just a Student in Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Geophysics Department

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: